Aura dalam Kosmologi Islam

An Indonesian Muslim woman prays at a mosque in Jakarta on September 8, 2009. Indonesian Muslims like millions of Muslims around the world, are observing the holy month of Ramadan -- a month of fasting and spiritual purity during which they refrain from eating, drinking or sex from dawn until dusk. AFP PHOTO / ADEK BERRY (Photo credit should read ADEK BERRY/AFP/Getty Images)

Aura merupakan medan elektromagentik tubuh yang berfungsi sebagai pelindung. Penampakannya seperti lapisan sinar yang membungkus tubuh. Aura inilah yang mengindikasikan karakter, kesehatan jasmani dan rohani seseorang.

Tidak semua orang mempunyai kemampuan melihat medan aura ini. Sebab, warna-warna aura berada 4 oktaf di bawah frekuensi sinar yang bisa dilihat mata fisik. Misalnya, mata manusia hanya bisa melihat warna antara merah sampai ungu, sedangkan aura memiliki frekuensi berada di bawah warna merah.

“Ilmu membaca aura bukan ilmu klenik, seperti yang selama ini disalahpahami oleh banyak orang,” ujar Debra Maria Rumpesak, MsT, Cht, pakar aura dan dosen fisioterapi di Universitas Binawan, Jakarta.

Pembuktian ilmiah terhadap keberadaan aura ini sudah banyak dilakukan. Ditandai dengan ditemukannya Foto Kirlian oleh Ilmuwan asal Rusia, S. Kirlian.

Dengan teknologi ini, Kirlian bisa merekam bias aura atau aura inti tubuh yang berwarna putih. Selanjutnya pada 1987, Guy Coggings dari Prancis menemukan kamera Progen Aura yang bisa menangkap warna warni aura emosional yang melapisi bagian luar aura eterik.

Sayangnya dengan alat ini Anda hanya bisa melihat hasil jepretan yang berifat statis. Baru akhir 1998, Fisslinger asal Jerman, berhasil menemukan teknologi Aura Video Station (AVS). Dengan alat ini seseorang bisa melihat pergerakan aura secara dinamis melalui layar monitor.

Kajian Islami

Aura dalam kajian Islami dipahami sebagai pantulan dari sisi luar pancaran cahaya langit dan bumi, yang mengkristal secara batin dan terpendam dalam jiwa manusia.

Pancaran cahaya yang dalam kajian Islam disebut ‘nur’ ini tidak menyilaukan mata, bahkan sebaliknya ia akan dapat menyejukkan, menyenangkan dan menentramkan batin orang lain yang memandangnya.

Kehebatan lain dari cahaya aura itu sendiri tidak terlepas dari aneka warna memukau yang melambangkan kesempurnaan ciptaan Tuhan dan aspek lain dari jiwa Nabi Muhammad SAW. Yang merupakan suatu teofani dan refleksi dari ketakterbatasan kekayaan khazanah Tuhan yang tercipta setiap saat tanpa pernah kehabisan kemungkinan-kemungkinannya yang tampak sebagai refleksi duniawi dari keadaan surgawi.

Maka aneka warna hasil polarisasi cahaya aura melambangkan manifestasi yang Esa dalam yang banyak, serta kebergantungan yang banyak kepada yang Esa. Setiap warna dari cahaya aura melambangkan keadaan dan cahayanya sendiri, tanpa cahaya yang terbatas hanya pada warna tertentu. Apabila aneka warna dianggap melambangkan keadaan dan tingkatan eksistensi kosmik, maka warna aura  pun merupakan simbol dari wujud dan simbol sumber seluruh eksistensi yang senantiasa berhubungan dengan kehadiran Tuhan dan inteligensi kosmik yang juga bersinar di dalam diri manusia.

Dan merupakan sarana untuk menyadari keberadaan Yang Maha Esa, melalui cahaya yang bersinar di seluruh kosmos dari pusat Axis mundi (cahaya keberkahan) yang tidak di timur maupun di barat.

Aura itu sendiri adalah suatu pancaran sinar (cahaya) yang mengalami proses penghalusan berkali-kali dan sebagian sinarnya melingkupi makrokosmos (alam semesta atau jagat besar) dan sebagiannya lagi melingkupi mikrokosmos (manusia atau jagat kecil), pancaran sinar Aura ini ada yang aktif dan ada pula yang non aktif baik pada alam semesta maupun pada diri manusia.

Daya aktif aura atas alam semesta akan tampak terlihat nyata dan jelas pancaran sinarnya (transparan), sedangkan daya aktif aura atas diri manusia tidak begitu jelas terlihat (hanya berupa uap tipis).

Sumber Pesona

Pancaran halus sinar aura pada diri manusia itu menjalar dan melingkupi seluruh tubuhnya, dari ujung kepala (tulang cranial) sampai ujung kaki (tulang kaki). Sedangkan 20% aura wanita yang terletak pada wajahnya terdiri dari otot wajah yang melekat pada 3 lapisan kulit wajah, yakni epidermis, dermis dan hypodermis yang akan memberinya elastisitas dan ketahanan, sehingga ia akan dapat atau bisa mengekspresikan perasaannya, seperti tersenyum, tertawa, cemberut (ngambek), saat ketika sedang marah dan sebagainya.

Kesemuanya ini atau saat-saat kondisi seperti inipun jika auranya sedang aktif maka yang akan tampak terlihat oleh orang lain atau terutama lawan jenisnya adalah daya pesona yang luar biasa sekali.

Bahkan jika saja segala gerak-geriknya ia lakukan dengan suatu kewajaran (tanpa dibuat-buat) maka daya pesonanya akan kian bertambah hebat, sebab daya pesona itu bukan hanya terdapat pada senyuman manis di bibir dan kerlingan matanya yang tajam memikat, serta melangkah dengan gemulai akan tetapi saat ia marah, cemberut (ngambek) sebenarnya ada daya pesona tersendiri asalkan dilakukannya dengan secara wajar.

Begitupun sebaliknya bagi kaum pria, jika auranya sedang aktif, maka ia pun akan mengalami hal yang serupa seperti halnya kaum wanita, walupun timbulnya daya pesona itu tidak sebesar dengan yang ada pada diri kaum wanita.

Pancaran sinar aura jenis ini adalah sarana yang memungkinkan pengaksesan kesunyian yang tersembunyi di pusat wujud manusia. Kesunyian yang merupakan bentuk dari sesuatu yang halus dan merupakan sumber seluruh aktifitas serta perbuatan yang penuh arti sekaligus menjadi seluruh sumber keberadaan dan kehidupan manusia.

Pancaran sinar aura adalah keyakinan yang bersifat ilahiah yang berasal dari karunia Tuhan dan terletak di dalam segumpal hati dan perasaan setiap manusia.


Aura merupakan sebuah kunci yang diberikan kepada manusia agar dapat menguak rahasia daya pesona – daya tarik dan kharismatik dalam hidup dan kehidupannya sendiri, dan memperoleh harta yang terlupakan dan terabaikan karena tersembunyi didalam dirinya.

Aura diberikan kepada manusia untuk mengenal dirinya sendiri dan kemudian mengenal Tuhan untuk mendengarkan nyanyian alam.

Karenanya, sumber kecantikan dan keindahan adalah keselarasan (Tanasub). Semua yang selaras mewujudkan keindahan di dunia, karena seluruh kecantikan, keindahan dan keselarasan yang dapat diamati di dunia ini adalah pantulan kecantikan dan keindahan dunia tersebut. Alasan untuk ini adalah adanya hubungan antara esensi hati (qalbu) wanita dengan dunia transenden, yang disebut alam ruh, karena dunia transenden adalah dunia kecantikan dan keindahan sekalipun sumbernya adalah dunia transenden.