Tahi Lalat Pembawa  Sial  Versi  Lontar  Usada Tiwang – Bali   

source : wiki

Tahi lalat atau andeng-andeng diyakini mempengaruhi nasib manusia. Ada yang bawa  keberuntungan, tetapi juga ada    bawa sial. Seperti apa yang membawa sial?

Andeng-andeng atau tahi lalat bukan hanya sebatas tanda bintik hitam yang melekat di bagian tubuh tertentu, tetapi memiliki makna tertentu bagi hidup manusia. Sebagian besar  umat manusia di dunia meyakini misteri atau mitos di balik keberadaan andeng-andeng yang dihubungkan dengan peruntungan. Salah satunya adalah andeng-andeng yang muncul di vagina.

Menurut lontar Usada Tiwang, andeng-andeng atau tahi lalat yang muncul di vagina akan membawa sial bagi suami dan keluarganya kelak. Wanita yang memiliki pertanda ini diibaratkan seperti Tembuku Bosor, yaitu bendungan air yang bocor sehingga tidak mampu mengairi sawah.

Jadi keberadaannya sia-sia. Jika kelak ia bersuami, kehidupannya diramalkan tidak akan pernah bahagia. Salah satu diantaranya akan cendek tuwuh (berusia pendek). Namun umumnya, sang suamilah yang diramalkan lebih dulu meninggal.

Tembuku bosor juga bisa diartikan memiliki energi negatif. Wanita yang memiliki andeng-andeng di vagina, tidak akan memiliki keberuntungan. Rejekinya seret sehingga terus-menerus kekurangan. Walaupun berpenghasilan banyak, tetapi kerap kekurangan juga karena rejekinya bocor sehingga banyak terbuang. Besar rejeki yang didapat, besar juga pengeluaran yang tak terduga.

Dalam lontar tersebut juga dipaparkan, wanita yang memiliki andeng-andeng di vagina memiliki nafsu seksual tinggi dan kuat dalam hubungan seksual sehingga tidak pernah merasa puas. Karena itu, cenderung suka berselingkuh. Kebanyakan memiliki tabiat kurang baik, kelakuannya kurang sopan serta suka menggoda lelaki.

Hawa yang dimiliki oleh wanita dengan andeng-andeng di vagina cenderung bersifat panas dan mengalahkan lelaki pasangannya. Jika melakukan hubungan seksual, energi sang suami akan tersedot.

Semakin sering berhubungan badan, makin banyak energi yang tersedot sehingga membuat pasangannya cenderung sakit-sakitan dan berumur pendek. Wanita seperti ini juga disebut Bawean Lanang karena tiap kali menikah, pasangannya akan mati lebih dulu.

Andeng-andeng di vagina juga disebut Ngelurug Manah karena memancarkan aura merah darah yang bersifat panas. Aura panas ini akan membawa sial bagi suami dan keluarga, sehingga perlu diruwat atau mebayuh.

Mebayuh 

Setiap kelahiran membawa keberuntungan dan kesialan. Tidak hanya hari atau pawukon, termasuk juga tanda-tanda yang melekat sejak lahir yang disebut garis tangan. Namun kesialan-kesialan atau sengkala akibat faKtor kelahiran bisa dinetralisir dengan cara ruwatan atau dalam bahasa Bali disebut mebayuh.

Walaupun bukan jaminan, setidaknya mebayuh ini merupakan salah satu upaya terapi untuk menghilangkan atau menetralisir pengaruh buruk kelahiran. Biasanya mebayuh  ditentukan berdasarkan hari lahir sesuai perhitungan pertemuan antara pancawara, saptawara dan pawukon karena ritual mebayuh terkait dengan sarana dan sesaji yang digunakan.

Tiap hari kelahiran memiliki sarana dan banten mebayuh yang berbeda. Ada yang menggunakan berbagai jenis duri, atau juga air yang didapat dari berbagai sumber air. Tempat mebayuh juga berbeda, seperti di pura, depan sanggah kemulan taksu, pelinggih surya, hulu sungai atau leloan. Termasuyk juga wanita yang memiliki andeng-andeng di vagina, memiliki cara mebayuh tersendiri.

Andeng-andeng di vagina bukan sebuah kesalahan, tetapi memang ada unsur sengkalanya yang diakibatkan oleh kekuatan gaib di sekitar kelamin yang disebut prana. Kekuatan prananya sangat dahsyat sehingga tidak terkontrol dan cenderung memanas. Inilah menimbulkan hawa negatif bagi tubuh.

Tahi lalat di vagina juga disebut dengan Geni Apinggel. Wanita ini akan makmur hidupnya jika bersuamikan lelaki yang memiliki andeng-andeng yang sama di kemaluan. Jika tidak, ia harus melakukan ruwatan atau mebayuh yang disertai dengan mantra Banyu Suci. Mantra tersebut disalurkan pada tiga buah periuk berisi air dan tiga jenis bunga. Air yang telah diberkati dengan kekuatan mantra tersebut, dipakai untuk mandi saat hari kelahiran.

Setidaknya ruwatan ini dilakukan sebanyak tiga kali, setiap hari kelahiran. Dengan lelaku ini, kekuatan negatif yang terpancar dari andeng-andeng bisa dinetralisir sehingga tidak membawa sengakala bagi diri sendiri, pasangan dan keluarga kelak.

By : Wayan Suarna