RMP SosroKartono, Hiperpoliglot Berjasa Hentikan Perang Dunia Pertama

source: observer

Hyperpolyglot atau hiperpoliglot adalah orang yang mampu menguasai dan menuturkan lebih dari enam bahasa secara lancer.  Istilah ini dicetuskan oleh lingus asal Inggris, Richard Hudson pada 2003. Istilah ini berasal dari kata polyglot yang artinya orang yang mampu menuturkan banyak bahasa.

Menurut catatan sejarah dunia, ada orang Indonesia yang layak menyandang predikat hiperpoliglot tersebut. Beliau adalah Raden Mas Panji Sosrokarto (1877-1918), yang mampu menutur 34 bahasa di seluruh dunia dengan rincian 24 bahasa asing dan 10 bahasa daerah.

source : okezone

RMP Sosrokartono adalah kakak kandung RA Kartini, yang lahir pada Rabu Pahing, 10 April 1877. Beliau adalah putra RM Adipati Ario Sosroningrat Bupati Jepara. Dan semenjak kecil, Sosrokartono telah memperlihatkan keistimewaannya. Beliau anak yang cerdas dan mempunyai kemampuan melihat dan membaca masa depan.

Setelah tamat Eropeshe Lagere School di Jepara dan melanjutkan pendidikannya di HBS di Semarang pada 1898 dan lanjut kuliah di Belanda. Awalnya masuk ke Sekolah Teknik Tinggi di Leiden, tapi karena merasa tidak cocok ia kemudian pindah jurusan ke bahasa dan kesusastraan timur.

Beliau merupakan mahasiswa Indonesia pertama yang meneruskan pendidikan ke Belanda dan menggemgam gelar Doctorandus in de Oosterche Talen dari perguruan tinggi di Leiden. Kemudian ia menjelajah keseluruh Eropa dan Amerika untuk mencari berbagai pekerjaan.

Pada 1917 Sosrokartono diterima menjadi wartawan Koran Amerika The New York Herald Tribune. Semua itu terjadi karena kemampuannya menyingkatpadatkan sebuah berita berbahasa Perancis, yang awalnya sepanjang satu kolom menjadi hanya 30 kata saja.  Yang kemudian ditulis ulang dalam 4 bahasa, Inggris, Rusia, Spanyol dan Perancis.

source: observer

Sebelum menjadi wartawan, beliau pernah menjadi penerjemah di Wina, Austria. Di Eropa Sosrokartono kondang dengan julukan Si Jenius dari Timur yang kemudian juga menjadi wartawan di beberapa Koran di Eropa.

Dalam Buku ‘Memoir’ tulisan Drs Muhammad Hatta dikisahkan jika saat menjadi wartawan surat kabar Amerika, Sosrokartono mendapat gaji hingga $US  1.250. Dengan gaji sebesar itu, bisa dipastikan kehidupan mewah dapat ia jalani di Eropa.

Sebelum Perang Dunia pertama berakhir, RMP Sosrokartono terpilih menjadi penerjemah blok sekutu. Mereka mencari seorang penerjemah yang paham budaya Eropa tapi bukan orang Eropa.