Alien Pernah Mendarat di Pulau Alor NTT

“Crop circle bukanlah bekas lokasi pendaratan UFO, melainkan tanda yang digunakan sebagai jejak oleh entitas cerdas dari planet lain,” jelas Nur Agustinus,  pendiri  BETA-UFO Indonesia kepada Mainstream.

Sebagai komunitas peneliti benda terbang tak teridentifikasi (UFO). Menurut Agustinus, Crop Circle sebenarnya sudah banyak muncul dan terjadi di beberapa Negara terutama di Inggris. Mengenai tudingan bahwa fenomena tersebut adalah ulah manusia, Agustinus tak menampiknya. “Jika crop circle itu kecil dengan bentuk sederhana bisa jadi itu karena buatan  manusia. Tapi jika ukurannya sangat besar dengan pola yang geometris yang rumit dan hanya dibuat dalam waktu yang sangat singkat seperti kejadian di Jogya, saya yakin itu bukan buatan manusia,” terang   Nur Agustinus.

 Agustinus menjelaskan jika  fenomena crop circle yang pernah terjadi  di Sleman, Jogjakarta bukan yang pertama di Indonesia. Data BETA-UFO menyebutkan, pada 1998 di Tuban, Jawa Timur juga pernah terjadi fenomena serupa. Sementara untuk dunia crop circles sebenarnya telah terjadi sejak Abad ke 17. Fenomena ini sering disebutkan di teks-teks akademis pada tahun 1700-an.

Dalam analisanya,  Nur Agustinus menyatakan antara crop Sleman dan Bantul memiliki keterkaitan. Artinya makna seperti lambang cakra antara keduanya memiliki arti yang hampir sama. Sementara yang di magelang pada akhir Januari berbeda dengan keduanya. Sebenarnya di Indonesia sendiri sejak 1960 hingga 1980 an sudah ada data mengenai interaksi mahkluk asing luar bumi dengan manusia, hanya saja data tersebut sempat terputus setelah itu karena fokus pengembangan teknologi ketika itu adalah tehnologi tepat guna.

Pendataan mengenai objek asing asing luar bumi ini sedikit terabaikan. “Namun pernah ada laporan  pada tahun 80 an, pilot tempur TNI AU mengejar pesawat asing yang tertangkap melintas secara illegal di Indonesia. Pengejaran itupun sempat dilakukan mulai dari Pantai Selatan Jawa Barat hingga wilayah Lampung. Namun pengejaran itu sia-sia belaka  sebab kecepatan pesawat tempur Indonesia tidak mampu mengimbangi kecepatan benda asing tersebut,” kisahnya.

Namun, kontak yang paling fenomenal sesuai data yang dipunyai BETA-UFO adalah pada 1959 di sekitar Kepulauan Alor di wilayah Nusa Tenggara Timur. Ketika itu penduduk melaporkan adanya orang-orang asing yang tidak mereka kenali. Jumlah mereka ada 6 orang dengan memakai semacam baju selam berwarna perak. Pada pinggang mereka terdapat beberapa piringan atau cakram. Sementara ditangan mereka memegang  semacam monitor TV. Awalnya penduduk menduga mereka adalah tenaga ahli dari Jerman. Namun tinggi tubuh mereka tidak jauh beda dengan orang-orang Alor ketika itu. Jadi walau berkulit putih mereka punya tinggi dibawah orang Jerman yang ada di Alor.

“Kecurigaan penduduk itu semakin memuncak ketika, mereka mengtahui ada seorang anak yang mendadak hilang. Esok harinya anak tersebut memang berhasil ditemukan tapi dalam kondisi linglung. Hal inilah yang mendorong kemarahan masyarat yang menuduh mahluk tersebutlah yang melakukan semua itu. Sempat terjadi pengepungan, tapi keenam orang itu dapat dengan mudah melarikan diri. Sebab menurut penduduk dalam posisi terpojok, mahluk ini bisa melompat setinggi pepohonan.