Zaman Majapahit,  Tukang Santet di Hukuman Mati

Fenomena santet sebenarnya bukan barang baru di Nusantara ini. Sejak zaman kerajaan-kerajaan santet menyantet ini sudah menjadi keseharian dari beradaban ketika itu. Bedanya jika dibeberapa peradaban lain mungkin tidak terlalu merisaukan gawatnya dampak dari santet, Kerajaan Majapahit sangat memperhatikan keselamatan warganya dari ancaman santet.

Bahkan untuk menegaskan keseriusan itu, pada zaman Majaphit sudah ada aturan hukum yang melarang orang mempraktekkan ilmu hitam untuk mencelakai orang lain. Dalam undang-undang Majapahit, disebut criteria santet sebagai tindakan yang menulis nama orang lain di tulang, atau batok kelapa, darah dan sebagainya, lalu merendamnya di air. Semua hal tersebut masuk dalam kategori santet. Dan bila ketahuan maka raja sendiri yang mengeksekusinya hingga mati.

Ada pula pasal lainnya, yakni barangsiapa menulis nama orang lain di kain kafan, peti mati atau keranda, disebut santet. Pelakunya diancam hukuman mati oleh raja. Ada satu pasal lagi jadi kriteria perbuatan santet di zaman Majapahit, yakni barangsiapa menanam patung orang dari tepung di kuburan dan diberi nama seseorang, atau menggantungkannya di dahan pohon, di sanggar, atau di persimpangan jalan, itu berbahaya. Maka pelakunya harus dihukum mati oleh raja.