Pembebasan Spiritual Candi Kidal

Banyak orang percaya jika Candi Kidal ini memiliki tuah spiritual sebagai pembebas kutukan. Terbuki banyak relief yang mengisahkan prosesi ruwat sebagai perlambang pembebasan roh menuju tempat yang lebih layak. Konon Burung Garuda lambang Negara Indonesia juga terinspirasi oleh salah satu relief Garudeya. 

Secara administratif Candi Kidal terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Perjalanan menuju Candi Kidal ini dapat dilakukan dengan mudah melewati jalan beraspal yang menghubungkan kota Malang dengan Kecamatan Tumpang. Candi Kidal juga berada  di  jalan raya antara Kecamatan Tajinan dan Kecamatan Tumpang. Situs Candi Kidal yang menempati area seluas 1775,50 meter persegi di tengah alam pedesaan ini merupakan daerah endapan lahar gunung berapi pada ketinggian 517 meter di atas permukaan air laut. 

Sejarah  mencatat bahwa kemudian Ken Angrok yang bergelar Sang Amurwabhumi itu dibunuh oleh suruhan Anusapati, anak Tunggul Ametung dengan Ken Dedes, pada  1169 Saka (1247 M). Sesudah itu, Anusapati naik takhta pada 1170 Saka (1248 M). Ia kemudian dibunuh oleh Tohjaya,  anak Ken Angrok dengan Ken Umang  pada  1249 M. 

Mengenai tahun meninggalnya Anusapati memang ada dua sumber yang berselisih. Menurut kitab Nagarakertagama pupuh 41 :1 dijelaskan bahwa Raja Anusanatha atau Anusapati meninggal pada 1170 Saka (1248 M) dan untuknya dibuatkan sudarmma (candi) di Kidal. Sebaliknya Pararaton menjelaskan bahwa Anusapati meninggal pada tahun Saka 1171 (1249 M) dan dicandikan di Kidal.

Dari bukti-bukti otentik tersebut, kebanyakan para arkeolog setuju jika  Candi Kidal adalah tempat pendarmaan Anusapati. Arkeolog Belanda, Bernet Kempers, berpendapat jika Candi Kidal ini pembangunannya selesai sekitar  1260 Masehi, saat diadakannya upacara sraddha, upacara yang dilangsungkan 12 tahun setelah raja meninggal. Selain bersumber pada Nagarakertagama dan Pararaton, fungsi Candi Kidal dapat dipelajari melalui relief Garudeya yang intinya adalah cerita tentang pelepasan arwah orang yang sudah meninggal.

Ke Kiri

Asal-usul nama Kidal yang disebutkan pertama kali dalam Nagarakertagama tidak diketahui secara pasti. Ada  dugaan nama   Candi Kidal diambil dari  cara pembacaan relief Garudeya, urutan jalan ccritanya seharusnya dimulai dari sebelah selatan dan berakhir di utara atau ke kiri alias ngidal. Candi Kidal berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 8,36 x 8,36 meter.  Bentuk bangunan ramping menjulang seperti lazimnya candi-candi di Jawa Timur. Pintu masuk candi berada di sebelah barat. Secara keseluruhan Candi Kidal masih mempunyai bagian bangunan yang relatif  lengkap, yaitu bagian batur, kaki, tubuh, dan atap.

Adapun keindahan masing-masing sisi dapat diuraikan sebagai berikut. Sisi Utara: Garuda digambarkan dengan sikap badan jongkok, kaki kanan ditekuk dengan lutut tepat di depan perut, sedangkan kaki kiri ditekuk dengan lutut bertumpu pada landasan. Tangan kanan diangkat bersikap menyangga,  sedangkan tangan kiri berada di pinggang sebelah kiri. Di atas kepala garuda duduk seorang wanita di atas padma. Sisi Timur: Garuda digambarkan dalam sikap yang sama seperti pada sisi utara, tangan kanan memegang seberkas ikatan yang ditafsirkan sebagai seikat kuca (rumput). Di atas kepala Garuda terdapat guci amrta.

Sisi Selatan: Garuda digambarkan dalam sikap jongkok yang sama. Di atas kepalanya terdapat tiga ekor naga. Relief Garuda tersebut, menurut para sarjana, menggambarkan ceritera Garudeya,
yang pembacaannya diurutkan secara pradaksina, (menganankan candi) yaitu berturut-turut dari sisi utara adalah Garuda bersama dengan ibunya; Garuda dengan guci amrta yang telah direbutnya dari para Dewa, dan Garuda dengan para naga. Selain dari sisi mitologi, Candi Kidal masih memiliki keunikan yang lain. Tersusun dari dari batu andesit dan berdimensi geometrivertika . Kaki candi nampak agak tinggi dengan tangga masuk keatas kecil-kecil seolah-olah bukan tangga masuk sesungguhnya. Badan candi lebih kecil dibandingkan luas kaki serta atap candi sehingga memberi kesan ramping. Pada kaki dan tubuh candi terdapat hiasan medalilion serta sabuk melingkar menghiasi badan candi. Atap candi terdiri atas 3 tingkat yang semakin keatas semakin kecil dengan bagian paling atas mempunyai permukaan cukup luas tanpa hiasan atap seperti ratna (ciri khas candi Hindu) atau stupa (ciri khas candi Budha). Masing-masing tingkat disisakan ruang agak luas dan diberi hiasan. Konon tiap pojok tingkatan atap tersebut dulu disungging dengan berlian kecil.