Kitab Assikalaibineng, Kamasutra Bugis (habis)

seperti yang tercantum di awal tulisan, kitab ini pun menerangkan tentang waktu yang baik untuk berhubungan intim berikut manfaat-manfaatnya jika hal ini dikerjakan. Menurut kitab ini tak semua waktu bagus untuk berhubungan intim.

Ada waktu-waktu khusus yang harus diperhatikan jika ingin memiliki anak yang diinginkan, dari mulai warna kulit anak, faktor kecerdasan anak yang kelak dilahirkan dan sebagainya tergantung dari pada jam atau waktu kapan Anda melakukan hubungan intim.

Misalnya untuk mendapatkan anak dengan warna kulit tertentu, kitab ini menyebutkan bahwa jika ingin memiliki anak berkulit putih maka persetubuhan harus dilakukan sesudah Isya, untuk anak dengan warna kulit gelap, persetubuhan dilakukan pada tengah malam, dan untuk anak dengan warna kulit kemerah-merahan dilakukan persetubuhan antara waktu Isya dan atau pas tengah malam. Sedangkan untuk anak berkulit putih bercahaya, bersetubuhan dilakukan dengan memperkirakan berakhirnya masa terbit fajar di pagi hari. Atau lebih tepatnya dilakukan usai solat subuh.

Untuk zaman sekarang, mungkin aturan ini akan terdengar lucu di telinga kita, karena disamping belum dapat dibuktikan secara ilmiah, aturan-aturan bersetubuh pada jam-jam tertentu ini menjadikan seks bukan lagi sebagai rekreasi yang dapat dilakukan kapan pun kita membutuhkannya, tapi lebih kepada pro-kreasi atau kebutuhan membelah diri yang adakalanya mengesampingkan unsur dasar dari seks itu sendiri sebagai suatu aktivitas badani.

Kemudian, pada bab berikutnya kitab ini membahas tentang tips atau tepatnya treatment bagi para suami untuk menjaga kebugaran dan kelangsingan tubuh pasangannya. Untuk melangsingkan dan menghaluskan kulit istrinya, kitab ini mengajarkan tentang pijitan setelah berhubungan, pun begitu untuk menghaluskan kulit istrinya, sang suami dapat memanfaatkan ‘air mani’ sisa yang biasanya meleler di bagian luar babang urapa’ (vagina) istri dan kalamummu (zakar) pihak suami dan sejumlah mantra bugis-Arab.

Untuk tahapan berikutnya, sehabis berhubungan, kita bisa memanfaatkan air mani dari liang fajri yang telah bercampur dengan cairan perempuan. Kemudian letakkan di telapak tangan dan campurlah dengan sedikit air liur, dan sambil membaca dengan lafalan bugis, “waddu waddi, mani-manikang.” Air mani basuhan ini bisa dipijitkan ke 12 titik zona erotis istri agar tidak kendur dan tetap sensitif menerima rangsangan, atau juga dengan cara memiji-mijitnya disekitar tulang kering di ujung bawah jari kelingking, agar tubuh sang istri senantiasa langsing dan tentu saja singset. mmg