Assikalaibineng, Kitab Kamasutra Bugis (3)

Meski Assikalaibineng merupakan kitab yang berisi tentang ilmu-ilmu seksologi, tapi pendekatan yang digunakan adalah sisi tata kramanya, maka dalam aktifitas badaniyah ini disarankan untuk dilakukan dengan cahaya yang tidak benderang dan dilakukan dalam satu sarung, atau kain tertutup, atau kelambu.

Seperti juga dalam Kamasutra, dalam Assikalaibineng ini pun mengenal istilah foreplay atau pemanasan sebelum penetrasi. Dalam Assikalaibineng untuk foreplay mengenal dua istilah yakni makkarawa (meraba) dan manyyonyo (mencium).

Dua kegiatan yang dilakukan oleh tangan dan mulut dalam foreplay ini adalah dengan mengeksporasi zona-zona erotis yang terdapat dalam tubuh wanita, yakni pada 12 titik rangsangan yang diantaranya adalah meraba lengan sebagai titik rabaan pertama sebelum akhirnya meningkat pada titik rabaan berikutnya.

Pengalihan Fokus

Dalam foreplay berupa makkarawa dan manyonyyo ini, buku menyarankan tetap tenang dan mengatur irama naffaseng (nafas). Karena kitab persetubuhan ini sangat dipengaruhi oleh ajaran fiqhi al’jima atau ajaran berhubungan seks suami istri dalam syariat Islam, maka proses menahan nafas itu direkomendasikan dengan melafalkan zikir dan menyatukan ingatan kepada Allah Taala.

Untuk orang-orang zaman sekarang mungkin akan sedikit janggal dengan ajaran berdzikir sambil bersenggama ini. Tapi jika membaca komentar dari penyusun buku ini bahwa adakalanya seorang suami ketika berhubungan intim biasanya lebih berfokus untuk mencapai titik klimaks dan akhirnya memungkinkan untuk ejakulasi dini, maka ajaran berdzikir (tentu saja dalam hati) ketika dalam bersenggama menjadi terasa masuk akal, karena setudaknya dengan tidak melulu berfokus pada keadaan mencapai titik puncak menjadikan sebuah hubungan badan lebih panjang dan dengan sendirinya kepuasan sang istri pun bisa dicapai.

Lantas bagaimana cara untuk membangunkan seorang istri ketika sang suami sedang ingin menyalurkan libidonya sementara sang istri sudah pulas, mengingat adakalanya jadwal tidur antara suami dan istri terdapat perbedaan?

Dalam kitab ini diajarkan bahwa bila suami sedang ingin berhubungan maka sebaiknya suami memberi isyarat dengan cara mengangkat tangan kirinya dan kemudian menghembuskan nafas dari hidung. Jika nafas yang keluar dari lubang hidung kanan lebih kuat berhembus, maka pertanda kejantanan yang bangkit. Namun jika hembusan dari lubang kiri lebih kuat, maka sebaiknya sang suami menunda lebih dulu (hal 141). “Dalam keyakinan kebatinan Bugis, nafas hidung yang lemah dan kuat berkaitan langsung dengan ilmu kelaki-lakian atau kejantanan seorang pria.” (thamzil thahir)

source : tribun

Seperti yang dikemukakan di atas bahwa, lelaku dzikir dan mengatur hembusan nafas ketika berhubungan intim sangatlah penting, karena dusamping agar tak terlalu fokus pada pencapaian orgasme diri sendiri, juga agar gerakan dalam berhubungan intim pun tidak menjadi sedemikian vulgar.

Secara rinci dari proses pengaturan nafas dan dzikir ini sendiri dijelaskan dalam beberapa uraian yang begitu indah dan sangat amasuk akal, seperti misalnya saat kalamung (zakar) bergerak masuk urapa’na (vagina) disarankan membaca lafal (dalam hati) Subhanallah sebanyak 33 kali disertai tarikan nafas.

Bahkan bisa dibayangkan karena babang urapa’na (pintu vagina) perempuan ada empat bagian, maka di bagian awal penetrasi, disarankan hanya memasukkan sampai bagian kepala kalamummu lalu menariknya sebanyak 33 dengan tarikan napas dan disertai zikir, hanya untuk menyentuh “timungeng bunga sibollo” (klitoris bagian kiri).

Mungkin bagi generasi sekarang, lafalan zikir dalam hati saat bersetubuh akan sangat lucu, namun pelafalan Subhanallah sebanyak 33 kali dan perlahan dan diikuti tarikan napas akan membuat daya tahan suami melebihi ekspektasi istri! (hal-80). (Bersambung)