Kitab Assikalaibineng, Kamasutra Bugis (2)

Meski demikian, Assikalaibineng adalah kitab yang menjelaskan seks dan hubungannya dengan Islam, dimana semua diawali dengan basmallah dan wudhu. “Jadi Assikalaibineng menuliskan, bila ingin berhubungan dengan istri, sebaiknya dilakukan setelah salat isya, agar tidak merusak wudhu dan memiliki waktu yang lebih lama sebelum mencapai waktu subuh,” kata Muhlis.

Menurut Muhlis, Assiklaibineng ditulis atau buah pikiran dari Syech Yusuf. Kemudian, pengetahuan-pengetahuan itu terus bertambah dan mengalami reproduksi. “Dari puluhan manuskrip yang saya kumpulkan, semua tak sama persis. Selalu ada penambahan dan improvisasi dalam memandang (hubungan),” katanya.

Pelanggar Tabu

Sebelumnya pengetahuan akan seksualitas disebarkan melalui bahasa tutur. Dilakukan secara hati-hati dan dikhususkan pada pasangan yang akan menikah. Dalam lontara terdapat larangan pernikahan sesama jenis (homoseksual). Hukuman bagi mereka yang melakukan homoseksual adalah pengusiran keluar kampung atau bahkan ditenggelamkan di lautan. Homoseksual dianggap sama dengan perzinahan.

Dalam catatan sejarah, pengusiran juga dilakukan kepada seorang yang hanya memburu kepuasan. Seperti yang pernah terjadi di Bellawa, sebuah kerajaan kecil dalam wilayah Wajo. Dikisahkah tentang seorang raja bernama La Malloroseng membangun rumah di sisi jalan yang hendak ke pasar untuk memantau perempuan yang disenangi untuk ditidurinya. Rakyat yang gusar mengusir sang raja keluar kampung dan membakar rumahnya. Dia pun diberi gelar anumerta Petta Masuange (Tuan Mesum).

Kejadian serupa juga pernah menimpa Raja Bone La Icca. Lontara meriwayatkan sang raja selalu merebut istri orang hanya untuk kepuasannya. Rakyat marah dan menumbuk tubuhnya di bawah tangga istana sampai mati. Maka diberilah raja naas itu mendapat gelar anumerta La Icca Matinroe ri Adengenna (Raja yang tidur di bawah tangga). “Kenapa dia mati ditumbuk, supaya darahnya tidak mengotori tanah,” pungkas Muhlis.

Tugas Laki-laki

Manuskrip ini terbagi dalam beberapa bab yang pada tiap-tiap babnya mengupas antara lain tentang potensi ejakulasi dini, faktor kejiwaan yang mendorong seseorang untuk melakukan hubungan seksual, dan tips and triks seputar seksualitas seperti waktu yang baik untuk berhubungan intim, tips memanjakan pasangan selepas berhubungan intim, cara mudah merawat dan mengencangkan organ tubuh dengan memanfaatkan air mani yang keluar selepas berhubungan intim, pijat dan urut, mantra-mantra, dan sebagainya.

Assikalaibineng secara harfiah berarti cara berhubungan suami istri. Akar kata yang sama dipakai juga oleh para petani untuk mengistilahkan awal masa tanam padi di sawah. Kenapa? Karena, seperti juga dalam kitab suci Al-Qur’an yang pada salah satu ayatnya menyebutkan sebuah perumpamaan yang manis bahwa istri-istrimu adalah sawah ladang bagimu, dan kitab ini pun lahir atas pengaruh dari ajaran Islam maka kiranya cukup jelas penjelasan di atas kenapa satu kata bisa memuat dua arti yang secara harfiah begitu berbeda.

Dan memang, seperti lazimnya zaman ketika kitab ini ditulis bahwa yang berperan penting dalam sebuah hubungan intim adalah dari pihak laki-laki maka kitab ini pun baik dalam isi maupun penyajian lebih dikhususkan sebagai pegangan bagi para suami dalam tugasnya di ranjang. Mungkin ini jugalah yang sekaligus menjadi penjelasan mengapa ajaran ini hanya terbatas diajarkan kepada calon mempelai laki-laki saja, beberapa hari menjelang akad nikah.

Ajaran Kitab Persetubuhan Bugis ini diawali dengan pengetahuan tentang mandi, berwudlu, shalat sunah dan tafakur bersama sebagai prasyarat nikah batin, sebelum akhirnya menanjak ke tahapan lelaku badaniah, seperti bercumbu, penetrasi dan segala yang harus dilakukan setelah berhubungan intim. (bersambung)