“Intan Berduri” Tonggak Benyamin Sebagai Legenda Film Indonesia

source : irwannet

Awalnya tak ada yang istimewa dari perjalanan karir Benyamin S saat menjadi bintang film. Honey, Money And Djakarta, menjadi film pertama Ben yang diproduksi  pada 1970. Ketika itu Ben hanya jadi cameo, berperan sebagai penyanyi yang tampil di Djakarta Fair. Berikutnya Ben  main di film Hostess Anita, dan Brandal-Brandal Metropolitan, dengan peran-peran kecil.

Baca : Ikan Pembawa Hoki dan Rezeki, Awas Perhatikan Saat Tepat Melepasnya

Baru pada  film Dunia Belum Kiamat, Ben mulai dapat peran lumayan besar. Setelah semua peran-peran kecil itu, perlahan namun pasti Ben dapat kepercayaan menjadi peran pembantu di beberapa produksi film seperti Benteng Betawi dan , Si Pitung (1971), Angkara Murka (1972) dan Bing Slamet Setan Jalanan (1972).

Masih pada 1972, bintang terang  Ben bersinar lebih terang lagi. Ia akhirnya mendapat peran  bintang utama pada film Intan Berduri (1972. ). Film besutan  sutradara Turino Junaidi dengan durasi yang lumayan panjang, 104 menit. Banyak kritikus film menilai film ini sebagai film paling serius yang dilakukoni Benyamin. Intan Berduri ini juga sekaligus menjadi ajang pembuktian kematangan akting Ben.

Bukan itu saja, film ini pun jadi film terbaik peraih Piala Citra pada  Festival Film Indonesia 1973. Kemenangan Ben ketika itu terbilang kontroversial. Bagaimana tidak, Ben belum diperhitungkan sebagai pelakon film berbakat tapi dewan juri justru memilihnya sebagai pemeran utama pria terbaik. Sementara, lawan mainnya, Rima Melati juga menyabet kategori pemeran utama wanita terbaik.

Mengapa kemenangan Ben tersebut jadi kontroversi? Ternyata, sejak awal kritikus film Indonesia memandang Ben ‘hanya’ sebagai penyanyi pop Melayu, pemain lenong dan pelawak. “Biar saja mereka berpendapat macam-macam. Saya sendiri surprise bisa menang. Tapi semua itu keputusan juri. Sama seperti ketika saya bernyanyi lagu Betawi, banyak yang mencibir, kampunganlah, tapi sekarang justru banyak yang suka,” kata Benyamin dikutip dari buku Kompor Mleduk,  Benyamis S, karya The Creative Library.

Baca : 3 Cara Praktis Tangkal Santet dan Ilmu Hitam

Intan Berduri sendiri berkisah tentang keluarga miskin, Jamal yang diperankan Benyamin S, istrinya Saleha yang dimainkan Rima Melati dan anaknya. Kehidupan sederhana dan cenderung miskin itu digambarkan dari kehidupan mereka yang menggantungkan dirinya dari menangkap ikan di sungai dengan bubu. Keajaiban terjadi saat bubu Jamal menangkap intan. Seluruh kampung langsung geger. Konflik social langsung menyeruak, polisi dan pengacara harus turun tangan untuk mengamankan intan dan keluarga Jamal.

Inisiatif pengacara, Max Syad SH yang dimainkan Farouk Afero, datang untuk mengamankan intan dan keluarga itu untuk mendapat keuntungan. Jadilah konflik itu dikelola dengan segala kelucuannya. Seluruh hidup keluarga Jamal diatur oleh pengacara, mereka berpura-pura menjadi orang kaya. Belakangan Max Syad tahu bahwa intan itu adalah permata yang masih muda dan tidak bisa diolah atau dibentukitu. Jamal dan istrinya harus kembali miskin saat semua tentang intan itu terkuak. Sindiran berbalut kelucuan menjadi hiburan sepanjang film yang melambungkan nama Ben.

Sukses Intan Berduri, membuat Benyamin  kebanjiran tawaran akting. Konon ia disebut-sebut  sebagai aktor dengan bayaran tertinggi ketika itu. Rumor menyebut sekali main film Ben mendapat bayaran sekitar Rp 3 juta. Sementara dalam setahun Ben mendapatkan mampu main hingga 10 film dari 1973 hingga 1977.

Setelah Intan Berduri, akting Ben kembali bersinar difilm Si Doel Anak Modern (1976). Untuk Si Doel ini, Ben kembali diganjar  sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik pada FFI 197 bersama lawan mainnya, Christine Hakim juga dinobatkan sebagai pemeran wanita terbaik. mmg

Baca makanabis.com : Ramuan Kencur Penjaga Kualitas Suara