Kaligrafi Macan Ali Ditakuti Belanda Hingga untuk Tolak Bala Keraton

Pada perang Kemerdekaan para pejuang juga menggunakan bendera Macan Ali, source : mo

Bendera adalah produk kebudayaan yang bersifat material dan berasal dari kegiatan praktis manusia. Bendera memiliki fungsi simbolis yang bukan sekadar gambar karena dapat secara visual menginspirasi representasi atau bahkan persepsi yang ideologis, historis,sosial politik, hingga militer.

Dalam  konteks militer, bendera sebagai sumber kebanggaan dan kekuatan moral pasukan saat berperang. Dan salah satu bendera kerajaan Nusantara yang sangat terkenal adalah Bendera Kaligrafi Macan Ali Kesultanan Cirebon. Secara visual, Macan Ali adalah simbol kebesaran Kesultanan Cirebon. Dalam aksara Pangeran Wangsatarta, Macan Ali adalah bendera yang disebut : kad kacana singa baruang dwajalula dengan lambang Barong. Namun ketika Pangeran Sulaiman Sulendraningrat diangkat oleh Sultan Sepuh dan Sultan Kanoman Cirebon sebagai penanggungjawab kesejarahan, ditulisnya buku  “Babad Tanah Sunda atau Babad Cirebon” dan menyebut bahwa bendera Cirebon dengan nama “Macan Ali.”

Usir Bala

Sejarah bendera Macan Ali adalah bendera perang yang dibawa oleh Fatahillah saat penaklukan Batavia antara 1511-1526. Setelah Fatahillah dipanggil kembali ke Cirebon pada 1598 untuk menggantikan Sunan Gunung Jati yang telah meninggal dunia, bendera tersebut dibawa dan disimpan di Cirebon.

Yang menarik, eksistensi bendera Macan Ali tidak terlepas dari ranah mistik. Beberapa catatan sejarah menyebutkan  bendera ini dipinjamkan ke Keraton Mangkunegaran untuk mengusir bala. Naas, ketika berada di Keraton Mangkunegaran, bendera Macan Ali justru dirampas oleh Belanda. Konon perampasan ini karena Belanda merasa bendera ini  dianggap memiliki potensi yang berbahaya. Beruntung, karena kecerdikan pihak Keraton Mangkunegaran, mereka berhasil membuat salinannya. Saat ini, bendera Macan Ali berada di salah satu museum di Leiden, Belanda.

Simbol Arwah Leluhur

Namun, simbolisme bendera ini tidak serta merata hilang begitu saja. Bahkan elemen ikonografi dari benderanya dapat bertahan dan mengembangkan simbolisme tambahan seiring waktu. Simbol Macan Ali (hanya dengan mengambil ikon macan yang terdapat pada bendera) lebih digunakan sebagai hiasan seperti kaligrafi, lukisan, dan sebagainya, bukan hanya sebagai simbol kebesaran Kesultanan Cirebon.

Pergeseran tersebut tetap mempertahankan kepercayaan tradisi Jawa yang sarat dengan nilai mistik dan sakral. Dalam sejarah, macan sudah banyak digunakan sebagai simbol dalam kepercayaan macan dianggap sebagai representasi dari arwah leluluhur, macan juga dipercaya sebagai hewan suci yang sempurna dan penuh martabat baik dalam keadaan hidup atau mati. Itulah sebabnya pengunjung yang dapat melihat dan merasakan aura mistis dari kaligrafi Macan Ali. mmg