Wisata Spiritual Majalengka, Gudang Harta Berubah Jadi Danau

Gus Dur pernah melontarkan sebuah ungkapan tentang Majalengka yang katanya identik dengan Majapahit. Sedemikian istimewanya-kah kota ini?

Nama Majalengka itu sendiri berasal dari kata Majapahit yang menghilang atau tidak ada. Dalam bahasa Jawa Sunda, Lengka berasal dari kata Langka yang artinya hilang atau tidak ada. Meski terdapat simpang siur soal kapan nama Majalengka mulai dipakai untuk menyebut kawasan di timur Jawa Barat ini, sampai saat ini Majalengka tetap diyakini sebagai bekas bagian dari Kerajaan Hindu Talaga. Kerajaan Hindu di Talaga berdiri pada abad XIII Masehi dengan rajanya Batara Gunung Picung. Raja ini masih keturunan dari Ratu Galuh yang bertahta di Ciamis. Ratu Galuh ini sendiri merupakan putera kelima dari Prabu Siliwangi.

Daerah kekuasaan Talaga meliputi Talaga, Cikijing, Bantarujeg, Lemahsugih, Maja dan bagian Selatan Majalengka sendiri. Tampuk pemerintahan Batara Gunung Picung berlangsung selama dua windu. Kerajaan Hindu Talaga ini merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Hindu Islam dibawah kekuasaan Syekh Arya Brahma Wijaya atau Syekh Salingsingan atau memiliki nama lain Maulana Malik Ibrahim.

Dalam wilayah kekuasan Arya Brahma Wijaya inilah, Kerajaan Talaga berkembang sangat pesat. Namun, sejak datangnya penjajahan VOC, kerajaan Talaga kemudian dipindah oleh VOC ke kawasan Majalengka yang saat itu berada di bawah kekuasaan Nyi Ratu Rambut Kasih. Keputusan ini tentu saja mendapatkan penolakan dari warga Talaga yang akhirnya menimbulkan peperangan berkepanjangan.

asource : wisatainfo

Sejak saat itu, wilayah kekuasaan Hindu di Talaga pun berpindah ke Majalengka. Dan, kata Majalengka sendiri menurut babad setempat sebenarnya berasal dari nama dua orang puteri yang masih keturunan dari Ratu Rambut Kasih yang menghilang setelah sampai di kawasan tersebut untuk membuka pemukiman baru.

Setelah dicari kemana-mana, dua puteri itu tetap tak bias ditemukan. Sampai akhirnya, para pengawal yang disuruh mencari pun kembali menghadap Sang Ratu dan mengatakan kalau dua Maja itu ternyata Langka alias tidak ditemukan. Dua Maja yang dimaksud yakni dua pohon Maja yang menjadi pertanda dari ayah mereka disitulah Ratu Rambut Kasih harus membuka lahan baru untuk pemukiman.

Sebagai bekas wilayah para orang waskita, kawasan Majalengka tentu saja menyimpan banyak potensi mistik yang kekeramatannya hingga kini banyak diburu orang. Masyarakat percaya kawasan-kawasan yang pernah menjadi symbol kerajaan itu dipenuhi kekuatan gaib sehingga siapapun yang dapat meraupnya bakal mendapatkan kebahagiaan hidup.

Selain bekas rumah Sang Ratu Rambut Kasih, beberapa wilayah lainnya yang kini dipercaya telah berubah menjadi lokasi lain masih memiliki keterkaitan dengan kekuasaan Kerajaan Galuh dan Majalengka. Dan, tempat-tempat keramat berikut diyakini sebagai lokasi yang menjadi tempat tinggal selanjutnya dari dua Maja yang hilang itu. 



Harta Gaib Situ Cipanten

Lokasi ini berupa hamparan danau yang oleh masyarakat Sunda kerap disebut dengan nama Situ. Situ Cipanten berada di Kecamatan Sukahaji, kurang lebih 40 km dari Majalengka. Untuk menuju kawasan ini, terlebih dahulu harus melalui jalur pematang sawah dan jalan terjal berbatu. Lokasi situ ini cukup terpencil dan jauh dari pemukiman penduduk. Setelah melewati kawasan hutan jati dan pinus, pemandangan menakjubkan pun akan terhampar. Itulah Situ Cipanten yang dikenal memiliki keelokan panorama luar biasa.

Air situ ini masih alami karena belum tercampur oleh pembuangan penduduk maupun pabrik. Air dari situ ini tidak pernah kering dan sebagian dimanfaatkan oleh penduduk Sukahaji untuk berbagai keperluan. Namun, dibalik keelokannya, Situ Cipanten ternyata memiliki misteri. Salah satu misteri yang hingga kini sangat dipercaya yakni, kawasan Situ itu dulunya sebenarnya berupa gudang harta karun milik kerajaan Talaga. Gudang tersebut sengaja dibangun di tengah hutan untuk menghindari aksi penjarahan dari para perampok serta penjajah Belanda.

Oleh Prabu Arya Brahma Wijaya, di sekitar kawasan gudang tersebut ditanam sebuah pohon randu. Pohon randu ini bertujuan sebagai rumah bagi para gaib yang diberi tugas menjaga gudang tersebut. Gudang harta karun ini hanya diketahui oleh sang raja dan beberapa pejabat teras kerajaan saja.

Sementara, para punggawa dan prajurit apalagi masyarakat biasa tidak ada satu pun yang mengetahui apa sebenarnya isi dari bangunan itu. Walaupun ada penjaga khusus dari kerajaan, para penjaga ini juga tidak tahu apa isi dari bangunan itu, karena aturan ketat dari kerajaan yang melarang siapapun masuk ke dalam bangunan itu tanpa seijin dari sang raja. 

Namun, serapat-rapatnya menyimpan rahasia akhirnya terbongkar juga. Gudang tempat menyimpan harta karun kerajaan itu pun akhirnya tercium oleh para perampok. Gudang itu berhasil dibobol maling yang ternyata juga memiliki kesaktian tinggi karena berhasil mengalahkan para gaib yang bertugas menjaga tempat tersebut.

Semakin hari jumlah harta yang hilang dirampok semakin banyak. Prabu Arya pun akhirnya memutuskan untuk melenyapkan gudang tersebut dan menyulapnya menjadi hamparan air yang kemudian bernama Situ Cipanten. Konon, di Situ ini kerap digelar ritual khusus untuk mengambil harta gaib tersebut. Banyak orang yang berusaha memecahkan misteri tersebut. Mereka percaya dibalik hamparan air yang tenang itu sebenarnya tersimpan banyak harta yang tak ternilai harganya. mmg