Redam Konflik Keluarga dengan Kendi

Kendi air menyimpan potensi energi yang bisa mempengaruhi lancar tidaknya rezeki sebuah rumahtangga. Kendi air yang terbuat dari tanah  berkhasiat menjaga keharmonisan dalam rumah tangga, menghindari percekcokan bahkan perceraian.

**************<>********************

Kendi air mungkin sudah dianggap sebagai barang kurang berharga di tengah kehidupan modern. Apalagi yang terbuat dari tanah, bisa jadi barang usang yang pantas dimuseumkan sebagai kenangan peradaban moyang kita. Munculnya berbagai produk plastik, besi dan melamin dengan mengusung teknologi modern yang lebih kuat dan bersih serta higienis, menjadikan perabotan rumah tangga yang terbuat dari tanah bergeser.

Kini tidak banyak yang menggunakan perabotan berbahan tanah sebagai perlengkapan rumah tangga. Periuk, panci, penggorengan, gentong dan kendi air diganti dengan produk plastik, keramik, besi, dan melamin yang dicetak dengan teknologi. Namun sejatinya, produk-produk tersebut juga menyisakan segudang ancaman akibat zat kimia adiktif yang dikandungnya. Belum lagi, energi yang dipancarkan dari benda-benda tersebut kurang mendukung.  Berbeda dengan produk-produk berbahan tanah yang dibuat nenek moyang kita, tidak hanya sebagai perabotan untuk keperluan dapur, tetapi juga memiliki fungsi lain karena terbuat dari bahan alam.

Talam diisi kembang akan tampak seperti hiasan rumah, tetapi memiliki fungsi sebagai penetralisir hawa panas rumah.  

Energi Tanah

Kehidupan manusia tidak pernah terpisah dari alam, bahkan unsur pembentuk badan manusia juga berasal dari alam. Salah satu unsure alam yang tidak bisa dipisahkan dari manusia adalah tanah.  Tanah merupakan tempat berpijak dan tempat hidup bagi manusia. Mungkin karena itu pula, nenek moyang kita terinspirasi membuat berbagai perabotan keperluan hidup manusia berbahan tanah. Tidak hanya untuk bangunan rumah tempat tinggal seperti bata dan genting, juga berbagai perabotan rumah tangga khususnya alat-alat dapur.

Pemilihan perabotan dari tanah oleh nenek moyang kita tentunya bukan tanpa perhitungan. Kedekatannya dengan alam, membuatnya mengenal secara fasih unsur-unsur yang terkandung dari tanah.  Energi yang terkandung dari tanah, sampai kapan pun tetap diperlukan manusia untuk hidup. Tak heran, nenek moyang kita juga memanfaatkan tanah untuk peralatan rumah tangga mereka karena alat-alat itu memiliki energi yang dibutuhkan manusia, salah satunya adalah kendi air.

Kendi air dari tanah, memiliki kekuatan magis untuk mengharmoniskan suasa rumah.

Dulu alat ini hanya sebagai tempat air minum. Karena munculnya berbagai produk berbahan plasti dan besi, kendi air atau ketel tanah ini pun bergeser bahkan tidak banyak digunakan.

Banyak orang memilih menggunakan produk besi, keramik dan plastic karena ketel tanah rawan pecah, dianggap kurang higienis, ketinggalan zaman dan segudang alasan lain. Kalau pun ada yang menyimpan di rumahnya, mungkin sebatas sebagai benda antik untuk pajangan atau hiasan rumah

Sebetulnya ada rahasia tertentu, mengapa nenek moyang kita memilih menggunakan ketel tanah. Kendati sudah melalui berbagai proses, ketel atau kendi masih mengandung unsur-unsur yang terdapat di tanah sehingga nenek moyang kita yakin energi tanah masih terkandung di dalamnya.

Redam Panas

Kendi air memiliki energi yang bisa meredam suasana panas dalam rumah. Energi yang dikandungnya memiliki kekuatan untuk mengharmoniskan kehidupan rumah tangga agar terhindar dari percekcokan. Badingkan saja kehidupan nenek moyang kita zaman dulu, terasa lebih tenteram, damai dan tidak banyak terjadi kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), apalagi yang cerai gara-gara cekcok. Sedangkan pada zaman kehidupan bercap modern ini, kasus KDRT yang berakhir dengan perceraian bahkan pembunuhan, kerap nongol di berbagai media. Coba lihat di rumah mereka yang mengalami kasus tersebut, apakah mereka memakai peralatan nenek moyang yang terbuat dari tanah seperti kendi air? Jawabannya pasti tidak.

Kekuatan energi kendi yang diisi dengan air memberikan aura sejuk melingkupi seluruh rumah bahkan sampai ke pekarangan yang berimbas pada kesejukan hati nurani. Energi kendi air mampu menetralisir energi negative yang ada di dalam rumah yang diakibatkan penghuninya atau tataletak bangunan itu sendiri. Kepada mainstream.id  ahli fengsui dan hongsui Soelung Lodhaya menjelaskan, aura di dalam rumah biasanya dipengaruhi oleh pikiran penghuninya, tataletak bangunan, keberadaan tanah serta keadaan di sekitarnya.

Pengaruhi Rezeki

Dalam lontar Asta Kosala-kosali, lanjut   Soelung, juga dipaparkan bagaimana pintu masuk rumah, struktur bangunan, letak kamar, badan jalan dan asesorisnya sangat mempengaruhi aura dalam rumah yang juga berimbas pada penghuninya.  Rejeki seret, sering bertengkar, sakit-sakitan bahkan penghuni meninggal secara tak wajar, sering terjadi karena diakibatkan oleh hawa panas rumah yang dipicu faktor-faktor di atas.  

Sebagai salah satu penetralisirnya, saran Soelung, taruhlah kendi air atau ketel di rumah. Namun ketel harus terbuat dari tanah, tidak boleh dari porselin, plastik apalagi besi karena benda-benda ini memantulkan hawa panas. Sedangkan benda yang terbuat dari tanah, sesuai karakter tanah, akan menyerap hawa panas, kemudian menetralisir menjadi sejuk, setelah itu baru dihembuskan keluar. Karena itu pula, bejana, kendi atau ketel yang ditempat sebagai penetralisir energi rumah harus diisi air.

Ada beberapa aturan yang harus dipatuhi jika menaruh benda-benda tersebut agar sesuai dengan fungsinya. Kendi sebaiknya ditaruh di plafon rumah dengan cara diikat di kayu plafon dengan menggunakan tali serabut batang pisang. Kalau berupa talam atau wajan tanah, bisa ditaruh di samping pintu masuk, tetapi diisi dengan bunga cempaka kuning. Selain akan terlihat seperti hiasan, juga berfungsi sebagai penetralisir hawa panas.

Bagi pasangan suami istri yang kurang harmonis di dalam rumah, sebaiknya menaruh kendi yang diisi dengan air laut di sudut kamar tidur. Namun air laut diambil saat malam bulan purnama.

Menaruh kendi di dalam rumah harus dilakukan saat tengah malam, ketika suasana hangar bingar sudah terlelap dalam keheningan. Tujuannya untuk mengeluarkan aura ketenangan dari kendi tersebut.

Sebagai persyaratan rutin bagi mereka yang memilih lelaku ini, air dalam kendi harus diganti setiap tujuh hari sekali agar selalu bening. Jika tidak diganti, akan membuat aura sejuk berubah menjadi kusam sehingga mempengaruhi suasana rumah dan penghuninya. Bagi pasutri yang terancam cerai atau rumah tangga yang tidak harmonis, cobalak lelaku ini karena tidak berisiko dan perlu biaya banyak. Siapa tahu, benda ini menjadi solusi dari suasana panas dalam rumah tangga Anda.  mmg